Hidup adalah sebuah perjalan, dan kita sebagai insyan ciptaan tuhan hanya bisa untuk menjalani semua ini, maka jalani hidup ini dengan senyum
Kamis, 22 Januari 2015
Didik NA: Download DATA-BASE-ASESOR
Didik NA: Download DATA-BASE-ASESOR: Yth. Bapak dan Ibu Assesor SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA di Kabupaten Grobogan Dimohon Bapak Ibu Asesor segera mengirim Data Base Asesor ...
Didik NA: Download DATA-BASE-ASESOR
Didik NA: Download DATA-BASE-ASESOR: Yth. Bapak dan Ibu Assesor SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA di Kabupaten Grobogan Dimohon Bapak Ibu Asesor segera mengirim Data Base Asesor ...
Selasa, 04 Juni 2013
Layanan NUPTK Online Terbaru di Situs Padamu.Kemdikbud.Go.Id
Assalamu’alaikum,
rekan operator sekolah. Sudah tahu kan... ada layanan terbaru untuk pendataan
PTK berbasis NUPTK online. Iya benar..bertepatan di Hari Kebangkitan
Nasional 20 Mei 2013 ini, situs Layanan PADAMU NEGERI BPSDMPK-PMP http://padamu.kemdikbud.go.id
resmi dirilis dengan semangat membangkitkan pelayanan publik prima,
bukan sekedar pelayanan birokrasi, kepada dunia pendidikan Indonesia.
PADAMU NEGERI yaitu singkatan dari Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan pusat layanan data terpadu yang bersumber dari/ke sistem transaksional BPSDMPK-PMP Kemdikbud lainnya, meliputi: Evaluasi Diri Sekolah (EDS), NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Sertifikasi PTK, dan Diklat PTK, yang dibangun oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan - Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP).
Untuk langkah awal, nantinya melalui situs ini semua pemilik NUPTK diharuskan untuk mencari data masing-masing dan mempersiapkan diri dalam proses pemutakhiran data atau VerVal Ulang NUPTK mulai 3 Juni 2013 sesuai jenis Formulir VerVal Ulang ke Admin Dinas Kab/Kota atau Admin Sekolah Induk masing-masing. Data PTK hasil VerVal Ulang NUPTK akan menjadi sumber referensi utama untuk pelaksanaan program-program peningkatan mutu PTK yang dilaksanakan oleh Direktorat Kemdikbud terkait pada tahapan selanjutnya. Kegiatan ini yang juga merupakan registrasi ulang Sekolah dilaksanakan di tingkat Kota / Kabupaten, Kecamatan maupun Sekolah diseluruh wilayah Indonesia.
Kemudian, nantinya Admin Dinas dan Sekolah-Sekolah akan mendapatkan dan mengaktifkan akun login masing-masing. Surat Login PADAMU NEGERI Admin Dinas dapat diambil di LPMP setempat. Dan Surat Aktifasi Akun Login PADAMU NEGERI setiap sekolah dapat diambil dari Admin Dinas masing-masing.
Sekian dulu informasi ini, untuk lebih jelasnya anda bisa langsung menuju http://padamu.kemdikbud.go.id dan mulai mempelajari isi dari situs tersebut. Terimakasih dan salam persahabatan.
PADAMU NEGERI yaitu singkatan dari Pangkalan Data Penjaminan Mutu Pendidikan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan pusat layanan data terpadu yang bersumber dari/ke sistem transaksional BPSDMPK-PMP Kemdikbud lainnya, meliputi: Evaluasi Diri Sekolah (EDS), NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Sertifikasi PTK, dan Diklat PTK, yang dibangun oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan - Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP).
Untuk langkah awal, nantinya melalui situs ini semua pemilik NUPTK diharuskan untuk mencari data masing-masing dan mempersiapkan diri dalam proses pemutakhiran data atau VerVal Ulang NUPTK mulai 3 Juni 2013 sesuai jenis Formulir VerVal Ulang ke Admin Dinas Kab/Kota atau Admin Sekolah Induk masing-masing. Data PTK hasil VerVal Ulang NUPTK akan menjadi sumber referensi utama untuk pelaksanaan program-program peningkatan mutu PTK yang dilaksanakan oleh Direktorat Kemdikbud terkait pada tahapan selanjutnya. Kegiatan ini yang juga merupakan registrasi ulang Sekolah dilaksanakan di tingkat Kota / Kabupaten, Kecamatan maupun Sekolah diseluruh wilayah Indonesia.
Kemudian, nantinya Admin Dinas dan Sekolah-Sekolah akan mendapatkan dan mengaktifkan akun login masing-masing. Surat Login PADAMU NEGERI Admin Dinas dapat diambil di LPMP setempat. Dan Surat Aktifasi Akun Login PADAMU NEGERI setiap sekolah dapat diambil dari Admin Dinas masing-masing.
Sekian dulu informasi ini, untuk lebih jelasnya anda bisa langsung menuju http://padamu.kemdikbud.go.id dan mulai mempelajari isi dari situs tersebut. Terimakasih dan salam persahabatan.
SALAM SEDULUR OPERATOR
MOGA BERMANFAAT
Sabtu, 01 Juni 2013
daftar nama penerima tunjangan fungsional jateng
daftar nama penerima tunjangan fungsional jawa tengah dapat dilihat di donlowd pada ling di bawah ini :
http://fkgttpttkebumen.blogspot.com/2013/04/data-nama-penerima-tunjangan-fungsional.html
http://fkgttpttkebumen.blogspot.com/2013/04/data-nama-penerima-tunjangan-fungsional.html
Selasa, 29 Januari 2013
Pendidikan profesi guru (PPG) , sebuah program baru dari kementrian pendidikan nasional. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bahwa setiap guru harus menempuh pendidikan profesi guru guna meningkatkan kompetensi pendidik. Belum lama ini sebuah wacana yang bersumber dari portal dikti (dikti.go.id) mengeluarkan wacana bahwa salah satu syarat menjadi guru PNS ialah dengan mengantongi sertifikat lulus PPG. Lulusan sarjana pendidikan (baca SP.d) akan bersaing dengan sarjana ilmu murni. Kebijakan tersebut diambil atas dasar pertimbangan bahwa jika lulusan sarjana ilmu murni memiliki potensi dalam artian ilmunya lebih tinggi dari pada sarjana pendidikan kenapa tidak boleh menjadi guru, semata-mata tujuan kebijakan tersebut demi memajukan pendidikan di Indonesia dan mewujudkan generasi cerdas dan rendahnya kualitas guru indonesia saat ini.
sumber : http://ppg-pgsd.blogspot.com/2012/09/opini-pendidikan-profesi-guru-ppg-dan.htmlSebenarnya ada beberapa hal yang patut dikritisi dari kebijakan-kebijakan diatas. Pertama kebijakan sertifikat PPG sebagai salah satu syarat CPNS harus diimplementasikan dengan lebih bijak. Sebenarnya tujuannya baik dengan melakukan penyaringan guru CPNS yang berkualitas, guru-guru dianggap profesional setelah mendapatkan pengakuan melalui sertifikat PPG. Hal tersebut diilhami dari kebijakan untuk menjadi dokter PNS harus mengikuti pendidikan profesi dokter sebelum ia bisa diangkat menjadi PNS. Tapi ada yang perlu dikritisi dari program pendidikan profesi untuk guru dan calon guru. Berdasarkan informasi dari dosen saya untuk menempuh pendidikan profesi harus membayar dengan jumlah yang cukup besar, kurang lebih 10juta. Sungguh bukan jumlah yang kecil!ini seperti menyogok menjadi PNS! Contoh kecil, ialah ketika seseorang baru lulus S1, ada kesempatan menjadi PNS tapi dikarenakan ia belum mampu menempuh PPG karena biaya yang besar, ia bertahan menjadi guru GTT. Jika ia menunggu dengan mengumpulkan uang sebagai GTT, pertanyaan saya mau sampai kapan? Berapa sih gaji seorang GTT? Apalagi PPG tidak dilaksanakan setiap tahun. Maka hilanglah kesempatannya. Berbeda dengan seseorang yang memiliki latar belakang keluarga kaya, orang tua bisa dengan mudahnya membiayai PPG tersebut. Padahal belum tentu yang kaya lebih berkualitas. Lagi pula yang namanya PPG kan untuk meningkatkan kualitas guru, jika tujuannya demikian kenapa diberatkan dengan beban biaya yang tidak sedikit? Maka hal ini tidak lebih sebagai “sogokan”, yang kaya yang PPG. Memang ada program SM-3T, dimana calon guru/guru yang mengikuti program tersebut kelak bisa mendapatkan PPG secara gratis tapi kuota SM-3T itu terbatas. Ingin mengikuti PPG saja pengorbanannya besar, belum nanti masih seleksi PNS dan tuntutan yang semakin berat menjadi guru. Pastinya akan semakin banyak kesejahteraaan guru yang mengantung.Kedua, para sarjana non-pendidikan bisa menjadi guru hanya dengan satu tahun mengikuti PPG. Saya bilang ini sebuah ketidakadilan dan kebijakan yang tidak esensial dengan hakekat profesi guru. Hakekat seorang guru bukan hanya sekedar mengajar tapi mendidik, menguasai empat kompetensi (pedagogik, sosial, personal, dan profesional). Seorang sarjana pendidikan harus menempuh 4 tahun untuk menguasai 4 kompetensi tersebut, itu saja masih perlu diasah dan belajar. Bagaimana mungkin hanya dengan 1 tahun PPG para sarjana ilmu murni “pantas” dibandingkan dengan sarjana pendidikan? Lalu apa arti sarjana pendidikan dan buat apa ada jurusan kependidikan? Ini bukan soal sarjana pendidikan tidak mampu bersaing tapi lebih pada hakekat pendidikan. Seorang guru tidak hanya dituntut bisa mengajar tapi mendidik, mendidik dan dan mengajar adalah dua hal yang berbeda. Semua orang bisa mengajar, asal ada buku panduan, tapi tidak semua orang bisa mendidik. Saya akui secara ilmu/materi pelajaran mungkin sarjana non-kependidikan, ilmunya lebih mendalam tapi apa mereka tahu bagaimana membuat Rencana pelaksanaa pembelajaran, mengunakan pembelajaran yang tripel multi (multi media, sumber, dan metode), pembelajaran inovatif, karakteristik perkembangan peserta didik, memahami hakikat sebagai seorang guru ialah pendidik bukan pengajar yang hanya mentransfer ilmu tapi motivator, fasilitator, dan transformator. Pendidik bukan hanya mengemban tugas menjadikan peserta didik yang cerda, juga berkarakter. Jika sarjana pendidikan harus memahami hal-hal tersebut selama 4 tahun, apa adil mereka sarjana non-kependidikan dengan PPG 1 tahun pantas disebut sebagai guru? Jika alasan pemerintah adalah kualitas sarjana pendidikan, maka PPG merupakan jalan yang seharusnya memperbaiki kekurangan yang ada, bukan meragukan kualitas sarjana kependidikan di negeri sendiri. Karena banyak fakta dilapangan banyak guru yang pandai dalam penguasan materi tapi ia kurang “pandai” dalam pembelajaran sehingga banyak murid merasa tidak mendapatkan ilmunya. Jika kebijakan ini tidak dikritisi lagi, apa bedanya PPG dengan akta 4? Guru-guru diangkat dari sarjana ilmu murni yang tidak tahu hakekat pendidikan itu sendiri. Hanya judulnya yang beda tapi esensinya hampir sama.Ada wacana bahwa guru-guru yang lulus PPG kelak jika menjadi PNS akan secara langsung mendapat tunjangan sertifikasi (baca: gaji doble). Lagi-lagi kebijakan yang justru memicu “penyimpangan”. Adanya wacana tersebut memicu persaingan yang ketat untuk mengkuti PPG dan menjadi PNS, maka tidak dipungkiri penyimpangan-penyimpangan besar kemungkinan terjadi. Seperti yang sudah-sudah KKN (kolisi, korupsi dan nepotisme), pastinya sudah banyak yang mendengar “PNS jalur uang” alias nyogok. Ketika uang berbicara, judulnya!Seharusnya pemerintah bisa menempatkan kebijakan ini ditempat yang seharusnya. Bolehlah untuk mengikuti PPG harus mengeluarkan pengorbanan tapi bijaknya biayanya jangan sebesar itu. Yang kedua, kembali pada hakekat PPG sebagai sarana meningkatkan kualitas guru bukan meragukan potensi guru maupun calon guru (sarjana pendidikan). Para sarjana pendidikan ditempa selama 4 tahun bukan hanya untuk sekedar menguasai materi tapi mereka dituntut menjadi pendidik yang profesional dan berkarakter, bagaimana mendidik peserta didik sesuai tingkat perkembangannya. Jelas sarjana ilmu murni tidak bisa dibandingkan dengan sarjana pendidikan untuk menjadi seorang guru. Ada banyak pembanding jika dikupas satu persatu yang mana sarjana pendidikan tidak bisa digantikan posisinya dan disetarakan denga sarjana non-kependidikan.
Kamis, 17 Januari 2013
PPG TIKET MENUJU CPNS
Syarat baru diberikan oleh pemerintah untuk para guru yang ingin ikut dalam seleksi CPNS, lulu hanya dengan ijazah S1 kita dapat ikut dalam seleksi CPNS , maka banyak temen-temen ikut penyetaraan S1 PGSD. blm lama peraturan itu di buat sudah di ganti lagi dengan adanya PPG. bagaimana cara ikut PPG bagi GTT SD yg mengapdi di SD negeri? padahal mereka mengajar di sekolah dengan beban mengajar 24jam per minggu apa harus meninggalkan anak didiknya? kalau memang benar harus meninggalkan anak didiknya lalu siapa yang akan mengajar disekolahan, pada hal untuk saat inikebanyakan sekolah kekurangan guru danyang mengisi para GTT yang sudah mengapdi lama? apakah ini adil buat mereka? persyaratan yang membuat para guru GTT resah dan bingung dengan adanya persyaratan yang berubah-ubah. kenapa tidak seperti jaman dulu ada pengkatan CPNS impres yang dilakukan pada tahun 1970an? pada hal banyak guru GTT yang sudah memiliki penaglaman yanglama dalam mengajar serta tau selek beluk pendidikan selama ini. kemampuan mereka tidak diragukan lagitapi mengapa pemerintah sepertimenutup mata dengan hal itu. semoga peraturan itu tidak dilakukan untuk saat ini
Selasa, 15 Januari 2013
Sarjana dengan kualifikasi pendidikan guru SD berpeluang besar diangkat menjadi CPNS lewat jalur seleksi reguler ataupun honorer.
Wah, ini tentunya kabar yang bahagia dan menggembirakan untuk
para sarjana dengan kualifikasi pendidikan guru-guru SD untuk dapat
diangkat menjadi PNS baik dari jalur honorer maupun seleksi reguler di
tahun-tahun mendatang. Hal ini dikarenakan akan adanya ledakan guru SD
yang pensiun di tahun-tahun mendatang. Kabar ini disampaikan oleh ketua
umum PGRI. Berikut ini berita yang bersumber dari JPNN.
JAKARTA – Sampai saat ini
pemerintah belum bisa mengatasi kekurangan guru PNS untuk sekolah dasar
(SD). Persoalan semakin besar, karena Indonesia bakal menghadapi bom
pensiun guru SD tiga tahun berturut-turut.
Prediksi bakal terjadi bom pensiun guru SD ini dipaparkan oleh Ketua
Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistyo
di Jakarta kemarin (14/1). Dia mengatakan, bom pensiun guru SD ini
bakal terjadi tiga tahun berturut-turut. Yakni pada 2015, 2016, dan 2017
mendatang.
“Antisipasinya tentu harus dipikirkan dari sekarang,” katanya. Pada tiga tahun ini, Sulistyo memperkirakan guru SD yang pensiun bisa mencapai setengah hingga satu juta jiwa lebih.
Khusus di tempat kelahirannya, Jawa Tengah, perkiraan pensiun besar-besaran itu mencapai 100 ribu hingga 200 ribu guru SD per tahun.
Keberadaan bom pensiun guru SD ini tidak lepas dari siklus pensiun PNS. Sebagaimana diketahui, rata-rata umur pensiun guru PNS adalah 60 tahun. Sulistyo mengatakan pada pertengahan dekade 70-an silam pemerintah sedang giat-giatnya membangun sektor pendidikan. “Program ini terkenal dengan istilah SD Inpres,” kata dia.
Sulistyo mengatakan kala itu pemerintahan yang dipimpin Soeharto sedang gencar-gencarnya membangun SD-SD Inpres di seluruh Indonesia. Setelah SD-SD Inpres tadi selesai dibangun, ternyata persoalan yang muncul adalah sediktinya jumlah guru.
Akhirnya siapa pun yang mau jadi guru, langsung jadi PNS kala itu. “Syaratnya hanya dilatih sebentar,” kata dia. Nah, rekrutmen masal guru PNS SD pada masa SD Inpres itu diperkirakan mulai pensiun pada 2015, 2016, dan 2017.
Sulistyo berharap pemerintah tidak melanjutkan lagi program moratorium penerimaan CPNS baru secara ketat. Dia mengatakan kegagalan pemerintah memenuhi jumlah guru SD PNS tahun lalu disebabkan karena program moratorium yang tidak berjalan rapi.
Dalam pernyataannya memang pemerintah menyebutkan formasi guru bebas dari moratorium rekrutmen pegawai baru. Tetapi pada kenyataannya, masih banyak SD di daerah-daerah yang kekurangan guru PNS SD.
Dampak dari kekurangan guru PNS SD sangat luar biasa. Yakni kepala sekolah dengan gampang merekrut guru-guru SD honorer. Kondisi ini sangat merugikan negara di kemudian hari. Sebab guru-guru honorer ini selalu minta diangkat langsung menjadi CPNS oleh pemerintah karena merasa sudah mengabdi lama.
Sulistyo tidak ingin kekurangan guru terus terjadi ketika Indonesia bom bom pensiun guru PNS SD. Dia berharap mulai tahun ini atau mentok-mentok pada 2014 nanti, pemerintah menyiapkan pengganti guru-guru yang masuk gerbong pensiun massal itu. (wan)
“Antisipasinya tentu harus dipikirkan dari sekarang,” katanya. Pada tiga tahun ini, Sulistyo memperkirakan guru SD yang pensiun bisa mencapai setengah hingga satu juta jiwa lebih.
Khusus di tempat kelahirannya, Jawa Tengah, perkiraan pensiun besar-besaran itu mencapai 100 ribu hingga 200 ribu guru SD per tahun.
Keberadaan bom pensiun guru SD ini tidak lepas dari siklus pensiun PNS. Sebagaimana diketahui, rata-rata umur pensiun guru PNS adalah 60 tahun. Sulistyo mengatakan pada pertengahan dekade 70-an silam pemerintah sedang giat-giatnya membangun sektor pendidikan. “Program ini terkenal dengan istilah SD Inpres,” kata dia.
Sulistyo mengatakan kala itu pemerintahan yang dipimpin Soeharto sedang gencar-gencarnya membangun SD-SD Inpres di seluruh Indonesia. Setelah SD-SD Inpres tadi selesai dibangun, ternyata persoalan yang muncul adalah sediktinya jumlah guru.
Akhirnya siapa pun yang mau jadi guru, langsung jadi PNS kala itu. “Syaratnya hanya dilatih sebentar,” kata dia. Nah, rekrutmen masal guru PNS SD pada masa SD Inpres itu diperkirakan mulai pensiun pada 2015, 2016, dan 2017.
Sulistyo berharap pemerintah tidak melanjutkan lagi program moratorium penerimaan CPNS baru secara ketat. Dia mengatakan kegagalan pemerintah memenuhi jumlah guru SD PNS tahun lalu disebabkan karena program moratorium yang tidak berjalan rapi.
Dalam pernyataannya memang pemerintah menyebutkan formasi guru bebas dari moratorium rekrutmen pegawai baru. Tetapi pada kenyataannya, masih banyak SD di daerah-daerah yang kekurangan guru PNS SD.
Dampak dari kekurangan guru PNS SD sangat luar biasa. Yakni kepala sekolah dengan gampang merekrut guru-guru SD honorer. Kondisi ini sangat merugikan negara di kemudian hari. Sebab guru-guru honorer ini selalu minta diangkat langsung menjadi CPNS oleh pemerintah karena merasa sudah mengabdi lama.
Sulistyo tidak ingin kekurangan guru terus terjadi ketika Indonesia bom bom pensiun guru PNS SD. Dia berharap mulai tahun ini atau mentok-mentok pada 2014 nanti, pemerintah menyiapkan pengganti guru-guru yang masuk gerbong pensiun massal itu. (wan)
Selamat, untuk para sarjana dengan kualifikasi guru SD atas terbukannya kesempatan anda menjadi PNS di tahun-tahun mendatang.
Demikian, semoga bermanfaat.
Sabtu, 15 Desember 2012
Cara Mempercepat Koneksi Internet Modem SmartFren
Tips Cara Terbaru kali ini adalah sebuah Tips internet dan yang suka berinternet namun punya onelsi lelet,tips ini saya beri judul Cara Mempercepat Koneksi Internet Modem SmartFren .sebelum ini saya juga punya informasi tips sejenis yaitu Cara Memperkuat Sinyal Modem GSM HSDPA ,silahkan juga di liat tips jomblo ini :D Cara Cepat Mendapatkan Pacar
Langsung saja Berikut beberapa tips dan trik mengenai cara mempercepat koneksi modem SmartFren yang dapat sobat Pusat Teknologi lakukan agar koneksi internet tidak lelet atau lambat.
Langsung saja Berikut beberapa tips dan trik mengenai cara mempercepat koneksi modem SmartFren yang dapat sobat Pusat Teknologi lakukan agar koneksi internet tidak lelet atau lambat.
Ok semoga artike Cara Mempercepat Koneksi Internet Modem SmartFren bermanfaat bagi anda pengguna Smartfren,Link Pilihan kali ini adalah sebuah browser untuk berinternet,silahkan download mozilla terbaru di link DOWNLOAD MOZILLA FIREFOX TERBARU
- Colok atau tancapkan modem SmartFren ke dalam USB port laptop atau komputer kesayangan sobat
- Selanjutnya ubah settingan modem SmartFren sobat, caranya ubah semua parameter menjadi:
Access number: #777 atau *99#User name: cdmaPassword : cdmaAdvance setting : DNSPrimary DNS : 8.8.8.8Secondary DNS : 8.8.4.4Access number #777 atau *99#User name : smartPassword : smartAdvance setting : DNSPrimary DNS : 208.67.222.222Secondary DNS : 208.67.220.220
- Ubah settingan sinyal menjadi EVDO, hal ini dilakukan agar sinyal yang didapatkan oleh modem SmartFren hanya sinyal EVDO saja dan tidak berubah-ubah.
- Jika sobat telah merubah semua settingan, jangan lupa untuk tekan OK untuk menyimpannya
- Modem SmartFren siap anda gunakan.
Kamis, 13 Desember 2012
CARA ISTAL WINDOS 8
Windows 8 hadir dengan antarmuka baru yang diberi nama Metro
Style dengan gaya yang disesuaikan bagi para penggunaka PC Tablet dengan ciri khas
layar sentuhnya dan bagi para pengguna PC dekstop, user dapat beralih ke
antarmuka dekstop klasik, inilah salah satu keunggulan sistem operasi terbaru
besutan Microsoft. Mungkin Anda juga penasaran akan kehebatan fitur-fitur yang
ditawarkan Windows 8 dan ingin mencoba menginstalnya pada PC/Laptop. Cara
melakukan instal Windows 8 pada PC/Laptop sebenarnya tidak jauh berbeda dengan
cara menginstal Windows 7, hanya ada sedikit perbedaan dan berikut tahapan demi
tahapan melakukan instal PC/Laptop menggunakan Windows 8. Sebelum melakukan
upgrade (instal ulang) disarankan Anda memperhatikan hal-hal berikut ini:
- Pastikan PC/Laptop Anda memenuhi kebutuhan minimun Windows 8;
- Pastikan menggunakan DVD atau Removable Drive Windows 8 yang bootable (pada tulisan ini penulis menggunakan DVD Windows 8);
- Pastikan Anda telah mem-backup terlebih dahulu data-data penting pada PC/Laptop.
Jika semuanya telah siap, mari
kita mulai tahap demi tahap penginstalan Windows 8.
Langkah 1
Ubah pengaturan BIOS PC/Laptop
Anda agar dapat melakukan booting Windows 8 pada media yang digunakan (misal:
DVD Write atau Removable Drive).
Simpan pengaturan BIOS dan restart komputer, tunggu beberapa saat hingga muncul
tulisan Press any key to boot from CD or DVD...
bersamaan dengan itu tekan sembarang tombol keyboard untuk memulai instalasi.
Langkah 2
Windows
Setup : Anda dapat mengatur bahasa, format tanggal dan mata uang,
dan keyboard atau metode masukan selanjutnya klik Next.
Windows
Setup : Klik Install now untuk
melanjutkan. Berikutnya Anda diminta membaca dan menyetujui lisensi perangkat
lunak Microsoft, centang pada I accept the license
terms dan klik Next.
Langkah 3
Windows
Setup | Which type of installation do you want? : Pilih pada Custom: Install Windows only (advanced).
Langkah 4
Windows Setup | Where do you
want to install Windows? : Klik pada Drive
options (advanced).
Peringatan : Hati-hati dan teliti
pada saat melakukan fomat dan hapus partisi, Anda bisa kehilangan data penting
Anda jika terjadi kekeliruan!
Sekarang Anda bisa membagi-bagi
hard drive PC/Laptop menjadi beberapa partisi sesuai kebutuhan. Penulis
menggunakan hard drive berkapasitas 30 Gbyte dan akan membaginya ke dalam dua
partisi, partisi satu untuk sistem (menyimpan instalasi Windows dan semua
program), partisi dua untuk penyimpanan data.
Selanjutnya kita buat partisi kedua untuk penyimpanan data
(16 Gbyte), klik pada Drive 0 Unallocated Space
dan buat partisi kedua seperti pada langkah pembuatan partisi pertama.
Jika semua partisi telah selesai dibuat, maka akan terlihat seperti gambar di atas.
Jika semua partisi telah selesai dibuat, maka akan terlihat seperti gambar di atas.
- Drive 0 Partition 1: System Reserved (350 Mbyte) adalah partisi tambahan yang secara otomatis dibuat oleh sistem untuk penyimpanan konfigurasi Windows;
- Drive 0 Partition 2 (14,3 Gbyte) adalah partisi untuk menyimpan sistem operasi Windows 8 dan program-program yang akan kita install nantinya;
- Drive 0 Partition 3 (16,1 Gbyte) adalah partisi untuk penyimpanan data user.
Klik pada Drive 0 Partition 2 dan klik Next
untuk mulai memindahkan file-file yang dibutuhkan Windows.
Tunggu beberapa saat hingga semua proses pemindahan dan instalasi file selesai dilakukan, jika telah selesai komputer akan melakukan restart.
Tunggu beberapa saat hingga semua proses pemindahan dan instalasi file selesai dilakukan, jika telah selesai komputer akan melakukan restart.
Langkah 5
Setelah PC/Laptop kembali
menyala, berikutnya adalah melakukan pengaturan dan kustomisasi yang terdiri
dari 4 tahap Personalize, Wireless, Settings, dan
Sign in.
Personalize
: Anda dapat memilih warna latar belakang sesuai keinginan dan diminta mengisi
nama komputer. Selanjutnya klik Next.
Wireless : Jika di tempat Anda menginstal tersedia jaringan Wifi maka Windows akan menyarankan Anda menghubungkan PC/Laptop dengan jaringan Wifi tersebut, nantinya Windows yang sedang di instal akan melakukan sinkronisasi dengan akun Microsoft atau Anda dapat mendaftar terlebih dahulu jika belum memiliki akun Microsoft.
Wireless : Jika di tempat Anda menginstal tersedia jaringan Wifi maka Windows akan menyarankan Anda menghubungkan PC/Laptop dengan jaringan Wifi tersebut, nantinya Windows yang sedang di instal akan melakukan sinkronisasi dengan akun Microsoft atau Anda dapat mendaftar terlebih dahulu jika belum memiliki akun Microsoft.
Settings
: Terdapat dua pilihan yang bisa Anda pilih, pertama Use
express settings dan kedua Customize.
Jika Anda memilih Use express settings maka
sistem akan menerapkan pengaturan default terhadapt PC/Laptop, meskipun
demikian Anda masih bisa mengaturnya kembali setelah PC/Laptop selesai di
instal dan jika memilih Customize terdapat tiga
pengaturan umum yang bisa Anda kutomisasi diantaranya Check online for
solutions to problems, Send Microsoft info to help make Windows and apps
better, Help protect and update your PC.
Sign
in : Ini adalah tahap terakhir dari semua rangkaian instalasi
Windows 8, karena kita akan menggunakan Akun Lokal (Offline), pertama klik pada
Sign in without a Microsoft account selanjutnya
anda diminta mengisikan User name dan Password (opsional). Terakhir klik Finish.
Langkah 6
Sekarang Anda akan diperkenalkan cara bekerja menggunakan
tampilan baru Windows 8. Selanjutnya sistem akan melakukan sinkronisasi
software dan hardware PC/Laptop, akan muncul tulisan We're
getting your PC ready. Tunggu hingga semua proses selesai dilakukan dan
jika sukses secara otomatis sistem akan melakukan restart menandakan Anda telah
selesai melakukan instal Windows 8 pada PC/Laptop. Setelah restart, kita akan
dibawa ke dalam tampilan Metro dan untuk beralih ke tampilan klasik Windows
cukup menekan tombol Windows + D pada keyboard.
Untuk mengaktifkan .NET Framework 3.5 secara offline Anda bisa membaca artikel
berikut : Masalah
yang Timbul Setelah Install Windows 8
Temen-Temen pake OS apaan nih, Linux
atau Windows, saya tebak pasti rata-rata pakai Windows , karena walaupun
linux itu gratisan (open Sources) banyak program yang belum di support
oleh linux , sedangkan banyak program bahkan hampir semua support dengan
Windows.
DOWNLOAD (4.8 GB)
Windows Developer Preview English, 64-bit (x64)
DOWNLOAD (3.6 GB)
Windows Developer Preview English, 32-bit (x86)
DOWNLOAD (2.8 GB)
Trus , pake windows apaan? windows 7
atau XP . kalo saya masih pake yang jadul windows xp , sudah familier
aja… kalo windows 7 waktu minjem laptop temen, berniat mau ganti ke
windows 8? tapi mau beli master windows 8 mahal harganya hehe (yang asli) , tenang aja sama hal nya dengan windows versi sebelumnya , windows 8 juga ada yg free kok.
Ternyata banyak banget yang nyediain Download Windows 8 Full Version ISO Edition
, jadi temen-temen kalo mau rubah windwos nya ke windows 8 , untuk
dapatin master driver tinggal download aja. Untuk pengalaman menggunakan
windows 8 sih saya belum pernah. Kalo lihat aja sudah , memang tampilan
windows 8 lebih menarik , kalo tidak bisa puyeng juga make nya hehehe
Kalo mau download bisa download disini kok
, Developer previewnya tersedia dalam tiga versi, 1. Windows Developer
Preview dengan developer tools (x64), 2. Windows Developer Preview
English (x64) dan 3. Windows Developer Preview English (x86) :
[like-lock]
Windows Developer Preview dengan developer tools (x64)DOWNLOAD (4.8 GB)
Windows Developer Preview English, 64-bit (x64)
DOWNLOAD (3.6 GB)
Windows Developer Preview English, 32-bit (x86)
DOWNLOAD (2.8 GB)
Senin, 10 Desember 2012
Persyaratan Umum Calon Peserta Sertifikasi Guru tahun 2013 ::
.
.
- Guru yang masih aktif mengajar di sekolah di bawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) dari program studi yang terakreditasi atau minimal memiliki izin penyelenggaraan.
- Guru yang diangkat dalam jabatan pengawas dengan ketentuan:
>>> bagi pengawas satuan pendidikan selain dari guru yang diangkat sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (1 Desember 2008), atau
>>> bagi pengawas selain dari guru yang diangkat setelah berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru harus pernah memiliki pengalaman formal sebagai guru. - Guru bukan PNS pada sekolah swasta yang memiliki SK sebagai guru tetap dari penyelenggara pendidikan (guru tetap yayasan) minimal 2 tahun, sedangkan guru bukan PNS pada sekolah negeri harus memiliki SK pengangkatan sebagai guru dari Bupati/Walikota.
- Sudah menjadi guru pada saat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditetapkan (30 Desember 2005).
- Pada tanggal 1 Januari 2013 belum memasuki usia 60 tahun.
- Memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK).
- Guru dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan yang BELUM memiliki kualifikasi akademik S-1/D-IV apabila:
>>> pada 1 Januari 2012 sudah mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru, atau
>>> mempunyai golongan IV/a atau memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a (dibuktikan dengan SK kenaikan pangkat).
- Usia
- Masa Kerja
- Golongan
Kamis, 27 September 2012
PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR ANAK
PROPOSAL SKRIPSI PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR
ANAK PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn).
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Orang tua adalah komponen keluarga yang di dalamnya terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga kecil. Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia sangatlah penting.
Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan sifat masing-masing dari anggotanya, terutama pada anak-anak yang masih berada dalam bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya. Swhingga orang tua merupakan dasar pertama dalam pembentukan pribadi anak.
Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuhkembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti. Upaya- upaya tersebut dapat terwujud apabila di dukung dengan pola pengasuhan orang tua yang tepat.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 178) mengatakan bahwa pola asuh pada orang tua ada tiga macam yaitu pola asuh Otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permisif. Pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak- anaknya tidak hanya berpengaruh pada perilaku si anak melainkan akan berpengaruh pula pada prestasi belajarnya. Menurut W.J.S Purwadarrninto ( 1987: 767 ) rnenyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik - baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal - hal yang dikerjakan atau dilakukan. Bila berbicara tentang prestasi belajar maka tidak jauh hubungannya dengan lingkungan sekolah. Sekolah adalah sebuah konsep yang mempunyai makna ganda (Adiwikarto, 1988: 81). Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Kedua, sekolah berarti suatu kegiatan atau proses belajar mengajar. Lingkungan sekolah merupakan lingkugan kedua yang juga berpengaruh dalam menentukan prestasi belajar pada siswa
Sekolah dirancang untuk melaksanakan pembimbingan dalam sebagian perkembangan hidup manusia. Sekolah melanjutkan proses sosialisasi yang telah dilaksanakan sebelumnya yaitu dalam keluarga dan lingkungan sekitar rumah tangga, dan menyiapkan anak untuk memasuki tahapan hidup selanjutnya.
Di sekolah guru mengajarkan berbagai pengetahuan yang belum di dapatkan oleh anak. Pengetahuan tersebut digolong- golongkan kedalam bentuk mata pelajaran misalnya PKn, Matematika, Ips, Ipa, Bahasa Indonesia,dan masih banyak lainnya. Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaran merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak- hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh pancasila dan UUD 1945. Sehingga anak dapat mengetahui hal- hal yang diperbolehkan dan tidak dalam melakukan sesuatu.
Dengan demikian pola asuh yang diciptakan di lingkungan keluarga dengan pendidikan dilingkungan sekolah terutama dalam mata pelajaran PKn saling mempengaruhi pada diri anak dalam mencapai prestasi belajar pada anak demi masa depannya kelak, yang mana pada pelajaran ini ada kaitannya dengan segala bentuk tingkah laku anak. Dari sinilah penulis mengangkat penelitian yang berkaitan dengan pola asuh orang tua guna mengetahui apakah ada pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar anak pada mata pelajaran PKn. Khususnya orang tua yang menyekolahkan anak- anaknya di SD Pilang 1 Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora.
1.2 Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah yang dapat di ambil dari latar belakang diatas adalah sebagai berikut:
1) Apakah yang dimaksud dengan Pola Asuh ?
2) Ada berapa macamkah Pola Asuh yang diterapkan oleh orangtua?
3) Apa yang dimaksud dengan pola asuh demokratis, otoriter, dan juga permisif itu.
4) Apa saja faktor yang mempengaruhi prestasi belajar?
5) Apakah Pola Asuh yang di berikan orangtua mempengaruhi prestasi belajar pada anak?
6) Pola asuh yang mana yang sesuai dan layak diberikan kepada anak- anak?
1.3 Pembatasan Masalah
Adapun batasan masalah yang penulis sajikan dalam penelitian ini mengenai Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Anak pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang ada maka dapat diperoleh rumusan masalah. Adapun rumusan masalah yang dapat diambil yaitu ”Apakah ada pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar anak.
1.5 Tujuan Penelitian
Dalam penelitian terdapat tujuan- tujuan tertentu yang diharapkan oleh peneliti. Adapun tujuan dari diadakannya penelitian ini tidak lain adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara pola asuh orangtua terhadap prestasi belajar anak di sekolah terutama di Sd Pilang 1 Kec. Randublatung, Kab. Blora”.
1.6 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoitis
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Anak di sekolah” sehingga dapat dijadikan wahana untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan dalam mendidik anak.
b. Manfaat Praktis
- Bagi orang tua
Dengan penerapan pola asuh yang sesuai, orang tua paham dan sadar akan pentingnya pola asuh bagi seorang anak dalam membantu tercapainya prestasi belajar pada anak.
- Bagi anak
Penerapan pola asuh orang tua yang sesuai terhadap anak dapat memberikan manfaat bagi anak. Misalnya anak akan jauh lebih mandiri saat belajar, Anak dapat belajar dengan nyaman di rumah, selain itu tidak ada pembatas antara orang tua dan anak dalam keluarga (terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak), anak dapat bebas bertanya dan mengungkapkan perasaan kepada orang tuanya, anak juga dapat berlatih bertanggung jawab atas perilaku yang akan dan sudah dilakukan, serta yang paling utama anak lebih bertanggung jawab dalam kemajuan prestasinya di sekolah.
- Bagi guru
Pola asuh orang tua juga dapat memberi manfaat guru ketika anak ada dalam pengawasan di sekolah. Manfaat tersebut tidak lain proses pembelajaran dapat berjalan dengan tepat waktu, mempermudah guru dalam mengawasi perkembangan prestasi belajar anak disekolah dan guru juga dapat lebih mengenal tabiat anak didiknya.
II. Kajian Pustaka
2.1 Kajian Teori
1. Hakikat Pola Asuh Orang Tua
a. Pengertian Pola Asuh
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak dapat berinteraksi. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian sangatlah besar artinya. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam mengasuh anaknya orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena setiap masing- masing orang tua mempunyai pola pengasuhan tertentu yang beda pula.Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara orang tua dengan anak. Selama proses pengasuhan orang itualah yang memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak.
Menurut Darling (2003;1) mendefinisikan pengasuhan orang tua adalah aktivitas komplek termasuk banyak perilaku spesifik yang dikerjakan secara individu dan bersama- sama untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak. Berk (2000) dalam socialization with in the family (Anonim, 2003;1) pola asuh orang tua adalah daya upaya ortu dalam memainkan aturan secara luas di dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
Dalam mengasuh anaknya, orang tua cenderung menggunakan pola asuh tertentu. Penggunaan pola asuh tertentu ini memberikan sumbangan dalam mewarnai perkembangan terhadap bentuk- bentuk perilaku sosial tertentu pada anaknya. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
b. Macam- macam Pola Asuh Orang Tua
Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang tua. Melalui orang tua, anak beradaptasi dengan lingkungannya dan mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku di lingkungannya.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 178) terdiri dari tiga kecenderungan pola asuh orang tua yaitu: Pola asuh otoriter, Pola asuh demokartis, dan Pola asuh permisif. Ketiga pola asuh orang tua tersebut dapat dijelaskan seperti di bawah ini:
1) Pola asuh otoriter.
Yaitu pola asuh yang menetapkan standar mutlak yang harus dituruti. Kadangkala disertai dengan ancaman, misalnya kalau tidak mau makan, tidak akan diajak bicara atau bahkan dicubit.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 203), orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri kaku, tegas, suka menghukum, kurang ada kasih sayang serta simpatik, orang tua memaksa anak-anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka serta mencoba membentuk lingkah laku sesuai dengan tingkah lakunya serta cenderung mengekang keinginan anak, orang tua tidak mendorong serta memberi kesempatan kepada anak untuk mandiri dan jarang memberi pujian, hak anak dibatasi tetapi dituntut tanggung jawab seperti anak dewasa.
Dalam penelitian Walters (dalam Lindgren 1976: 306) ditemukan bahwa orang yang otoriter cenderung memberi hukuman terutama hukuman fisik. Sementara itu, menurut Sutari Imam Barnadib (1986: 24) dikatakan bahwa orang tua yang otoriter tidak memberikan hak anaknya untuk mengemukakan pendapat serta mengutarakan perasaan-perasaannya. Sedangkan menurut Sri Mulyani Martaniah (1964: 16) orang tua adalah : orang tua amat berkuasa terhadap anak, memegang kekuasaaan tertinggi serta mengharuskan anak patuh pada perintah-perintah orangtua. dengan berbagai cara, segala tingkah laku anak dikontrol dengan ketat.
Orang tua seperti itu akan membuat anak tidak percaya diri, penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, kepribadian lemah dan seringkali menarik diri dari lingkungan sosialnya, bersikap menunggu dan tak dapat merencakan sesuatu.
2) Pola asuh Demokratis.
yaitu pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak tetapi tidak ragu untuk mengendalikan mereka pula. Pola asuh seperti ini kasih sayangnya cenderung stabil atau pola asuh bersikap rasional. Orang tua mendasarkan tindakannya pada rasio. Mereka bersikap realistis terhadap kemampuan anak dan tidak berharap berlebihan.
Baumrind & Black (dalam Hanna Wijaya, 1986: 80) dari hasil penelitiannya menemukan bahwa teknik-teknik asuhan orang tua yang demokratis akan menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri maupun mendorong tindakan-tindakan mandiri membuat keputusan sendiri akan berakibat munculnya tingkah laku mandiri yang bertanggung jawab.
Hasilnya anak-anak menjadi mandiri, mudah bergaul, mampu menghadapi stres, berminat terhadap hal-hal baru dan bisa bekerjasama dengan orang lain.
3) Pola Asuh permitif
Tipe ini kerap memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 225) menyatakan bahwa Orang tua yang mempunyai pola asuh permisif cenderung selalu memberikan kebebasan pada anak tanpa memberikan kontrol sama sekali, Anak dituntut atau sedikit sekali dituntut untuk suatu tangung jawab tetapi mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa, dan Anak diberi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak mengatur anaknya. Orang tua tipe ini memberikan kasih sayang berlebihan. Karakter anak menjadi impulsif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri dan kurang matang secara sosial.
2. Prestasi belajar
a)Pengertian prestasi
Menurut Adi Negoro, prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu rnenunjukkan kecakapan suatu bangsa. Sedang menurut W.J.S Winkel Purwadarmtinto berbicara bahwa “ prestasi adalah hasil yang dicapai “. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Yang mana prestasi tersebut merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan hahwa prestasi adalah segala usaha yang dicapai manusia secara maksimal dengan hasil yang memuaskan.
b) Pengertian belajar
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman. (dalam http://andysapta.blogspot.com)
Mutubin syah (1996) yang mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Sedang menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Jadi belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
c) Pengertian prestasi belajar.
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang.
Prestasi belajar yang dicapai oleh anak disekolah merupakan suatu kebanggaan bagi anak dan juga orang tua. Oleh karena itu, orang tua dirasa perlu memberikan bimbingan belajar di rumah, khususnya anak usia SD. Bimbingan dan peranan orang tua sangatlah diperlukan. Tetapi hal tersebut sering sulit dilakukan karena terbentur kesulitan waktu karena banyak orang tua yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,sehingga para orang tua kesulitan waktu dalam membimbing anak- anak mereka.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat diketahui bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemampuan siswa yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
d) Faktor - faktor yang mempengaruhi Prestasi
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor- faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain adalah faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern).
Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya. Adapun faktor- factor yang mempengaruhi prestasi adalah sebagai berikut:
a. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu berhubungan dengan kecedersan/intelegensi, bakat, minat, dan juga motivasi. Ke empat hal tersebutlah yang menjadikan pendorong dalam prestasi belajar seorang individu.
b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekolah dajuga lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu.
3. Mata Pelajaran PKn
Tugas pendidikan adalah sebagai alat bantu dalam memekarkan potensi yang dimiliki anak. Penyeragaman dan gaya indoktrinasi dalam pendidikan merupakan teknik usang dalam mendidik yang harus ditinggalkan. Pendidikan hendaknya dipandang sebagai proses pengembangan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik secara integral yang meliputi ranah kognitif, apektif dan psikomotorik.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Selain hal tersebut pendidikan kewarganegaraan pada hakikatnya adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara Indonesia.
Sehingga dapat dikatakan bahwa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) khususnya di sekolah dasar merupakan pelajaran yang sangat penting dan mendalam bagi anak-anak. Dalam hal ini menyangkut tingkah laku dan moral anak dalam kehidupan bermasyarakat. Dari sinilah penyaji tertarik mengangkat mata pelajaran PKn sebagai mata pelajaran yang dijadikan objek penelitian. Yang mana pada mata pelajaran ini ada hubungannya dengan pengaruh orangtua terhadap anak dengan prestasi belajarnya.
4. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar.
Tugas orang tua ialah membantu anak dalam menyiapkan masa depannya. Waktu pendidikan di sekolah yang relatif singkat tidak membantu banyak dalam menyelesaikan masalah dalam membentuk pribadi anak.
Begitu juga dalam menerapkan pola pengasuhan pada anak. Orang tua tidak dapat memaksakan semua kehendaknya dalam diri anak demi kepentingan pribadi. Pola pengasuhan orang tua yang baik akan berpengaruh baik pada prestasi belajar anak,dan sebaliknya apabila Pola pengasuhan orang tua yang di ciptakan pada anak tidak baik maka akan berpengaruh buruk pula pada prestasi belajar anak, sehingga orang tua harus dapat memilih pola pengasuhan yang tepat bagi anak agar tidak menyesal, yang mana akan berdampak buruk pada masa depan anak kelak.
2.2 Penelitian yang relevan
Abdul ghofur mengatakan bahwa pola asuh orangtua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan. Oleh karena itu orang tua harus benar- benar mawas diri dan sungguh- sungguh dalam menanamkan nilai- nilai kehidupan serta norma- norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar.
Dari penelitian yang sudah ada, peneliti tertarik untuk meneliti kembali pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar anak pada mata pelajaran PKn dengan harapan agar orang tua, guru dan juga anak dapat menyelaraskan antara pendidikan di sekolah dan keluarga di bawah pengasuhan orang tua yang tepat.
2.3 Kerangka Berfikir
Kondisi awal : - Orang tua belum menerapkan pola pengasuhan anak yang layak diterapkan bagi anak- anaknya.
- Anak belum dapat meningkatkan prestasi belajar PKn.
Tindakan : - Orang tua memilih bentuk pola asuh mendidik anak- anaknya dengan memilih salah satu dari tiga pola asuh yang sudah ada.
Pola pengasuhan orangtua
(otoriter, demokratis, permisif)
Orangtua
AnakKondisi akhir :- Dengan pemilihan pola asuh yang tepat dapat meningkatkan prestasi belajar PKn anak
Prestasi belajar
2.4 Hipotesis Penelitian
- Apakah ada pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar anak
- Hipotesis: Dengan adanya pengaruh dari pola asuh orang tua anak dapat meningkatkan prestasi belajar.
III. Metode penelitian
3.1 Jenis penelitian dan lokasi Penelitian
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah dengan menggunakan jenis penelitian korelasional. Jenis penelitian ini digunakan untuk mengetahui variabel satu dengan variabel lainnya yaitu pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar PKn anak di sokolah.
b. Lokasi Penelitian
Lokasi yang hendak digunakan peneliti untuk mengadakan. Penelitian dilakukan di SD Pilang 1 Kec. Randublatung, Kab. Blora.
3.2 Variabel Penelitian
Nilai Variabel merupakan suatu istilah yag berasal dari kata vary dan able yang berarti “berubah” dan “dapat itu berupa nilai kuntitatif maupun kualitatif.. Ukuran kuantitatif maupun kualitatif suatu variabel adalah jumlah dan derajat atributnya. Variabel adalah suatu sebutan yang dapat diberi nilai angka (kuantitatif) atau nilai mutu (kualitatif). Pengukuran variabel penting bagi setiap penelitian sosial, karena dengan pengukuran itu penelitian dapat menghubungan konsep yang abstrak dengan realitas.
Berdasarkan pada kajian teori yang ada maka dapat diketahui variabel- variabel dalam penelitian ini. Variabel tersebut ada dua macam yaitu variabel bebas dan terikat. Variabel bebas dan terikat dalam penelitian ini dapat diketahui sebagai berikut:
- Variabel bebas (x) dalam penelitian ini adalah Pengaruh pola asuh orang tua.
- Variabel terikat (y) dalam penelitian ini adalah Prestasi belajar anak pada mata pelajaran PKn.
3.3 Populasi dan Sampel penelitian
- Populasi
Populasi adalah keseluruhan individu yang akan diteliti, paling sedikit mempunyai satu sifat atau ciri yang sama dengan kenyataan subjek dan akan digeneralisasikan. Maksud generalisasi adalah menyangkut kesimpulan penelitian sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi (Hadi, 2000).
Populasi dalam penelitian ini diambil keseluruhan siswa mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6.
- Sampel
Sampel adalah sebagian individu dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi. Penelitian ini tidak semua populasi dijadikan sampel tetapi hanya mengambil dari sebagian populasi yang representatif yaitu sampel yang benar-benar mencerminkan karakteristik dari populasi (Hadi, 2000).
Sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagian siswa dari populasi.
3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Definisi operasional.
Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang bagaimana caranya mengukur variabel. Variabel adalah objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan (http://rakim-ypk.blogspot.com).
a)Pola Asuh orangtua
Pada penelitian ini yang maksud dengan pola asuh orangtua adalah bentuk pengasuhan orangtua terhadap anak- anaknya dalam menciptakan peraturan- peraturan demi keberhasilan anak di masa depan.
b) Prestasi belajar
Pada penelitian ini, prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi belajar pada mata pelajaran PKn pada jangka waktu tertentu. Misalnya dalam jangka waktu satu semester.
Prestasi belajar pada mata pelajaran PKn dapat diukur dengan menggunakan tes akhir semester mata pelajaran PKn. Yang mana dengan tes ini dapat di ketahui nilai atau hasil yang diperoleh setelah belajar pelajaran pkn dalam waktu satu semester.
Table 1.
Kisi- kisi pada aspek dalam pengaruh pola asuh orang tua.
No
Aspek
Sup Aspek
Indikator
Nomor
Jumlah soal
1.
Pola asuh orang tua.
a. pola asuh otiriter
1. Kontrol terhadap anak bersifat kaku
2. Komunikasi bersifat memerintah.
3. Penekanan pada pemberian hukuman.
4. Disiplin pada orang tua bersifat kaku.
Melakukan 22 1, 4, 7,9, 11
5
b. pola asuh demokratis.
c. pola asuh permisif.
1. Kontrol terhadap anak relatif longgar
2. Komunikasi dua arah.
3. Hukuman diberikan
sesuai dengan tingkat
kesalahan anak.
4. Disiplin terbentuk atas komitmen bersama.
1. Kontrol terhadap anak
lemah atau sangat
longgar
2. Komunikasi sangat
bergantung pada anak.
3. Hukuman atau
konsekuensi perilaku
tergantung pada anak.
4. Disiplin terhadap anak
sangat longgar, orang
tua bersifat bebas.
3.5 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu pengaruh pola asuh dan prestasi belajar. Dalam analisis data, Pengolahan data dalam penelitian ini dapat menggunakan korelasi Spearman Rho menggunakan SPSS 11 For Windows Release yang diikuti dengan uji coba angket guna mengetahui validitas dan reliabilitas angket yang digunakan, Sehingga hasil yang didapat dapat penelitian dapat benar- benar dipertanggung jawabkan kepada semua pihak.
Uji Validitas Instrumen
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevaliditasan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 1998:160). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.
Uji Reliabilitas Instrumen
Selain data harus valid, alat ukur yang dignakan juga harus dapat memenuhi standar reliabilitas. Suatu instrumen dapat dikatakan reliable jika alat tersebut dapat dipercaya atau diandalkan. Menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Teknik yang dipakai untuk menentukan reliabilitas adalah dengan rumus Alpha (Suharsimi Arikunto, 1998:186).
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Orang tua adalah komponen keluarga yang di dalamnya terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga kecil. Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia sangatlah penting.
Keluarga pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan sifat masing-masing dari anggotanya, terutama pada anak-anak yang masih berada dalam bimbingan dan tanggung jawab orang tuanya. Swhingga orang tua merupakan dasar pertama dalam pembentukan pribadi anak.
Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuhkembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti. Upaya- upaya tersebut dapat terwujud apabila di dukung dengan pola pengasuhan orang tua yang tepat.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 178) mengatakan bahwa pola asuh pada orang tua ada tiga macam yaitu pola asuh Otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permisif. Pola asuh yang diberikan orang tua kepada anak- anaknya tidak hanya berpengaruh pada perilaku si anak melainkan akan berpengaruh pula pada prestasi belajarnya. Menurut W.J.S Purwadarrninto ( 1987: 767 ) rnenyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik - baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal - hal yang dikerjakan atau dilakukan. Bila berbicara tentang prestasi belajar maka tidak jauh hubungannya dengan lingkungan sekolah. Sekolah adalah sebuah konsep yang mempunyai makna ganda (Adiwikarto, 1988: 81). Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Kedua, sekolah berarti suatu kegiatan atau proses belajar mengajar. Lingkungan sekolah merupakan lingkugan kedua yang juga berpengaruh dalam menentukan prestasi belajar pada siswa
Sekolah dirancang untuk melaksanakan pembimbingan dalam sebagian perkembangan hidup manusia. Sekolah melanjutkan proses sosialisasi yang telah dilaksanakan sebelumnya yaitu dalam keluarga dan lingkungan sekitar rumah tangga, dan menyiapkan anak untuk memasuki tahapan hidup selanjutnya.
Di sekolah guru mengajarkan berbagai pengetahuan yang belum di dapatkan oleh anak. Pengetahuan tersebut digolong- golongkan kedalam bentuk mata pelajaran misalnya PKn, Matematika, Ips, Ipa, Bahasa Indonesia,dan masih banyak lainnya. Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaran merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak- hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh pancasila dan UUD 1945. Sehingga anak dapat mengetahui hal- hal yang diperbolehkan dan tidak dalam melakukan sesuatu.
Dengan demikian pola asuh yang diciptakan di lingkungan keluarga dengan pendidikan dilingkungan sekolah terutama dalam mata pelajaran PKn saling mempengaruhi pada diri anak dalam mencapai prestasi belajar pada anak demi masa depannya kelak, yang mana pada pelajaran ini ada kaitannya dengan segala bentuk tingkah laku anak. Dari sinilah penulis mengangkat penelitian yang berkaitan dengan pola asuh orang tua guna mengetahui apakah ada pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar anak pada mata pelajaran PKn. Khususnya orang tua yang menyekolahkan anak- anaknya di SD Pilang 1 Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora.
1.2 Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah yang dapat di ambil dari latar belakang diatas adalah sebagai berikut:
1) Apakah yang dimaksud dengan Pola Asuh ?
2) Ada berapa macamkah Pola Asuh yang diterapkan oleh orangtua?
3) Apa yang dimaksud dengan pola asuh demokratis, otoriter, dan juga permisif itu.
4) Apa saja faktor yang mempengaruhi prestasi belajar?
5) Apakah Pola Asuh yang di berikan orangtua mempengaruhi prestasi belajar pada anak?
6) Pola asuh yang mana yang sesuai dan layak diberikan kepada anak- anak?
1.3 Pembatasan Masalah
Adapun batasan masalah yang penulis sajikan dalam penelitian ini mengenai Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Anak pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang ada maka dapat diperoleh rumusan masalah. Adapun rumusan masalah yang dapat diambil yaitu ”Apakah ada pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar anak.
1.5 Tujuan Penelitian
Dalam penelitian terdapat tujuan- tujuan tertentu yang diharapkan oleh peneliti. Adapun tujuan dari diadakannya penelitian ini tidak lain adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara pola asuh orangtua terhadap prestasi belajar anak di sekolah terutama di Sd Pilang 1 Kec. Randublatung, Kab. Blora”.
1.6 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoitis
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Anak di sekolah” sehingga dapat dijadikan wahana untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan dalam mendidik anak.
b. Manfaat Praktis
- Bagi orang tua
Dengan penerapan pola asuh yang sesuai, orang tua paham dan sadar akan pentingnya pola asuh bagi seorang anak dalam membantu tercapainya prestasi belajar pada anak.
- Bagi anak
Penerapan pola asuh orang tua yang sesuai terhadap anak dapat memberikan manfaat bagi anak. Misalnya anak akan jauh lebih mandiri saat belajar, Anak dapat belajar dengan nyaman di rumah, selain itu tidak ada pembatas antara orang tua dan anak dalam keluarga (terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak), anak dapat bebas bertanya dan mengungkapkan perasaan kepada orang tuanya, anak juga dapat berlatih bertanggung jawab atas perilaku yang akan dan sudah dilakukan, serta yang paling utama anak lebih bertanggung jawab dalam kemajuan prestasinya di sekolah.
- Bagi guru
Pola asuh orang tua juga dapat memberi manfaat guru ketika anak ada dalam pengawasan di sekolah. Manfaat tersebut tidak lain proses pembelajaran dapat berjalan dengan tepat waktu, mempermudah guru dalam mengawasi perkembangan prestasi belajar anak disekolah dan guru juga dapat lebih mengenal tabiat anak didiknya.
II. Kajian Pustaka
2.1 Kajian Teori
1. Hakikat Pola Asuh Orang Tua
a. Pengertian Pola Asuh
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak dapat berinteraksi. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian sangatlah besar artinya. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam mengasuh anaknya orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena setiap masing- masing orang tua mempunyai pola pengasuhan tertentu yang beda pula.Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara orang tua dengan anak. Selama proses pengasuhan orang itualah yang memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak.
Menurut Darling (2003;1) mendefinisikan pengasuhan orang tua adalah aktivitas komplek termasuk banyak perilaku spesifik yang dikerjakan secara individu dan bersama- sama untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak. Berk (2000) dalam socialization with in the family (Anonim, 2003;1) pola asuh orang tua adalah daya upaya ortu dalam memainkan aturan secara luas di dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
Dalam mengasuh anaknya, orang tua cenderung menggunakan pola asuh tertentu. Penggunaan pola asuh tertentu ini memberikan sumbangan dalam mewarnai perkembangan terhadap bentuk- bentuk perilaku sosial tertentu pada anaknya. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
b. Macam- macam Pola Asuh Orang Tua
Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orang tua. Melalui orang tua, anak beradaptasi dengan lingkungannya dan mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku di lingkungannya.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 178) terdiri dari tiga kecenderungan pola asuh orang tua yaitu: Pola asuh otoriter, Pola asuh demokartis, dan Pola asuh permisif. Ketiga pola asuh orang tua tersebut dapat dijelaskan seperti di bawah ini:
1) Pola asuh otoriter.
Yaitu pola asuh yang menetapkan standar mutlak yang harus dituruti. Kadangkala disertai dengan ancaman, misalnya kalau tidak mau makan, tidak akan diajak bicara atau bahkan dicubit.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 203), orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri kaku, tegas, suka menghukum, kurang ada kasih sayang serta simpatik, orang tua memaksa anak-anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka serta mencoba membentuk lingkah laku sesuai dengan tingkah lakunya serta cenderung mengekang keinginan anak, orang tua tidak mendorong serta memberi kesempatan kepada anak untuk mandiri dan jarang memberi pujian, hak anak dibatasi tetapi dituntut tanggung jawab seperti anak dewasa.
Dalam penelitian Walters (dalam Lindgren 1976: 306) ditemukan bahwa orang yang otoriter cenderung memberi hukuman terutama hukuman fisik. Sementara itu, menurut Sutari Imam Barnadib (1986: 24) dikatakan bahwa orang tua yang otoriter tidak memberikan hak anaknya untuk mengemukakan pendapat serta mengutarakan perasaan-perasaannya. Sedangkan menurut Sri Mulyani Martaniah (1964: 16) orang tua adalah : orang tua amat berkuasa terhadap anak, memegang kekuasaaan tertinggi serta mengharuskan anak patuh pada perintah-perintah orangtua. dengan berbagai cara, segala tingkah laku anak dikontrol dengan ketat.
Orang tua seperti itu akan membuat anak tidak percaya diri, penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, kepribadian lemah dan seringkali menarik diri dari lingkungan sosialnya, bersikap menunggu dan tak dapat merencakan sesuatu.
2) Pola asuh Demokratis.
yaitu pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak tetapi tidak ragu untuk mengendalikan mereka pula. Pola asuh seperti ini kasih sayangnya cenderung stabil atau pola asuh bersikap rasional. Orang tua mendasarkan tindakannya pada rasio. Mereka bersikap realistis terhadap kemampuan anak dan tidak berharap berlebihan.
Baumrind & Black (dalam Hanna Wijaya, 1986: 80) dari hasil penelitiannya menemukan bahwa teknik-teknik asuhan orang tua yang demokratis akan menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri maupun mendorong tindakan-tindakan mandiri membuat keputusan sendiri akan berakibat munculnya tingkah laku mandiri yang bertanggung jawab.
Hasilnya anak-anak menjadi mandiri, mudah bergaul, mampu menghadapi stres, berminat terhadap hal-hal baru dan bisa bekerjasama dengan orang lain.
3) Pola Asuh permitif
Tipe ini kerap memberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak.
Menurut Stewart dan Koch (1983: 225) menyatakan bahwa Orang tua yang mempunyai pola asuh permisif cenderung selalu memberikan kebebasan pada anak tanpa memberikan kontrol sama sekali, Anak dituntut atau sedikit sekali dituntut untuk suatu tangung jawab tetapi mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa, dan Anak diberi kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak mengatur anaknya. Orang tua tipe ini memberikan kasih sayang berlebihan. Karakter anak menjadi impulsif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri dan kurang matang secara sosial.
2. Prestasi belajar
a)Pengertian prestasi
Menurut Adi Negoro, prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu rnenunjukkan kecakapan suatu bangsa. Sedang menurut W.J.S Winkel Purwadarmtinto berbicara bahwa “ prestasi adalah hasil yang dicapai “. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Yang mana prestasi tersebut merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan hahwa prestasi adalah segala usaha yang dicapai manusia secara maksimal dengan hasil yang memuaskan.
b) Pengertian belajar
Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman. (dalam http://andysapta.blogspot.com)
Mutubin syah (1996) yang mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Sedang menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Jadi belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
c) Pengertian prestasi belajar.
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang.
Prestasi belajar yang dicapai oleh anak disekolah merupakan suatu kebanggaan bagi anak dan juga orang tua. Oleh karena itu, orang tua dirasa perlu memberikan bimbingan belajar di rumah, khususnya anak usia SD. Bimbingan dan peranan orang tua sangatlah diperlukan. Tetapi hal tersebut sering sulit dilakukan karena terbentur kesulitan waktu karena banyak orang tua yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,sehingga para orang tua kesulitan waktu dalam membimbing anak- anak mereka.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat diketahui bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemampuan siswa yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
d) Faktor - faktor yang mempengaruhi Prestasi
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor- faktor yang mempengaruhi tersebut antara lain adalah faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern).
Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya. Adapun faktor- factor yang mempengaruhi prestasi adalah sebagai berikut:
a. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu berhubungan dengan kecedersan/intelegensi, bakat, minat, dan juga motivasi. Ke empat hal tersebutlah yang menjadikan pendorong dalam prestasi belajar seorang individu.
b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekolah dajuga lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu.
3. Mata Pelajaran PKn
Tugas pendidikan adalah sebagai alat bantu dalam memekarkan potensi yang dimiliki anak. Penyeragaman dan gaya indoktrinasi dalam pendidikan merupakan teknik usang dalam mendidik yang harus ditinggalkan. Pendidikan hendaknya dipandang sebagai proses pengembangan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik secara integral yang meliputi ranah kognitif, apektif dan psikomotorik.
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Selain hal tersebut pendidikan kewarganegaraan pada hakikatnya adalah upaya sadar dan terencana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bagi warga negara dengan menumbuhkan jati diri dan moral bangsa sebagai landasan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam bela negara, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa dan negara Indonesia.
Sehingga dapat dikatakan bahwa mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) khususnya di sekolah dasar merupakan pelajaran yang sangat penting dan mendalam bagi anak-anak. Dalam hal ini menyangkut tingkah laku dan moral anak dalam kehidupan bermasyarakat. Dari sinilah penyaji tertarik mengangkat mata pelajaran PKn sebagai mata pelajaran yang dijadikan objek penelitian. Yang mana pada mata pelajaran ini ada hubungannya dengan pengaruh orangtua terhadap anak dengan prestasi belajarnya.
4. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Prestasi Belajar.
Tugas orang tua ialah membantu anak dalam menyiapkan masa depannya. Waktu pendidikan di sekolah yang relatif singkat tidak membantu banyak dalam menyelesaikan masalah dalam membentuk pribadi anak.
Begitu juga dalam menerapkan pola pengasuhan pada anak. Orang tua tidak dapat memaksakan semua kehendaknya dalam diri anak demi kepentingan pribadi. Pola pengasuhan orang tua yang baik akan berpengaruh baik pada prestasi belajar anak,dan sebaliknya apabila Pola pengasuhan orang tua yang di ciptakan pada anak tidak baik maka akan berpengaruh buruk pula pada prestasi belajar anak, sehingga orang tua harus dapat memilih pola pengasuhan yang tepat bagi anak agar tidak menyesal, yang mana akan berdampak buruk pada masa depan anak kelak.
2.2 Penelitian yang relevan
Abdul ghofur mengatakan bahwa pola asuh orangtua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan bagaimana bentuk pribadi anak dimasa depan. Oleh karena itu orang tua harus benar- benar mawas diri dan sungguh- sungguh dalam menanamkan nilai- nilai kehidupan serta norma- norma yang baik kepada anak melalui pola asuh yang baik dan benar.
Dari penelitian yang sudah ada, peneliti tertarik untuk meneliti kembali pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar anak pada mata pelajaran PKn dengan harapan agar orang tua, guru dan juga anak dapat menyelaraskan antara pendidikan di sekolah dan keluarga di bawah pengasuhan orang tua yang tepat.
2.3 Kerangka Berfikir
Kondisi awal : - Orang tua belum menerapkan pola pengasuhan anak yang layak diterapkan bagi anak- anaknya.
- Anak belum dapat meningkatkan prestasi belajar PKn.
Tindakan : - Orang tua memilih bentuk pola asuh mendidik anak- anaknya dengan memilih salah satu dari tiga pola asuh yang sudah ada.
Pola pengasuhan orangtua
(otoriter, demokratis, permisif)
Orangtua
AnakKondisi akhir :- Dengan pemilihan pola asuh yang tepat dapat meningkatkan prestasi belajar PKn anak
Prestasi belajar
2.4 Hipotesis Penelitian
- Apakah ada pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar anak
- Hipotesis: Dengan adanya pengaruh dari pola asuh orang tua anak dapat meningkatkan prestasi belajar.
III. Metode penelitian
3.1 Jenis penelitian dan lokasi Penelitian
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah dengan menggunakan jenis penelitian korelasional. Jenis penelitian ini digunakan untuk mengetahui variabel satu dengan variabel lainnya yaitu pengaruh pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar PKn anak di sokolah.
b. Lokasi Penelitian
Lokasi yang hendak digunakan peneliti untuk mengadakan. Penelitian dilakukan di SD Pilang 1 Kec. Randublatung, Kab. Blora.
3.2 Variabel Penelitian
Nilai Variabel merupakan suatu istilah yag berasal dari kata vary dan able yang berarti “berubah” dan “dapat itu berupa nilai kuntitatif maupun kualitatif.. Ukuran kuantitatif maupun kualitatif suatu variabel adalah jumlah dan derajat atributnya. Variabel adalah suatu sebutan yang dapat diberi nilai angka (kuantitatif) atau nilai mutu (kualitatif). Pengukuran variabel penting bagi setiap penelitian sosial, karena dengan pengukuran itu penelitian dapat menghubungan konsep yang abstrak dengan realitas.
Berdasarkan pada kajian teori yang ada maka dapat diketahui variabel- variabel dalam penelitian ini. Variabel tersebut ada dua macam yaitu variabel bebas dan terikat. Variabel bebas dan terikat dalam penelitian ini dapat diketahui sebagai berikut:
- Variabel bebas (x) dalam penelitian ini adalah Pengaruh pola asuh orang tua.
- Variabel terikat (y) dalam penelitian ini adalah Prestasi belajar anak pada mata pelajaran PKn.
3.3 Populasi dan Sampel penelitian
- Populasi
Populasi adalah keseluruhan individu yang akan diteliti, paling sedikit mempunyai satu sifat atau ciri yang sama dengan kenyataan subjek dan akan digeneralisasikan. Maksud generalisasi adalah menyangkut kesimpulan penelitian sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi (Hadi, 2000).
Populasi dalam penelitian ini diambil keseluruhan siswa mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6.
- Sampel
Sampel adalah sebagian individu dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi. Penelitian ini tidak semua populasi dijadikan sampel tetapi hanya mengambil dari sebagian populasi yang representatif yaitu sampel yang benar-benar mencerminkan karakteristik dari populasi (Hadi, 2000).
Sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagian siswa dari populasi.
3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Definisi operasional.
Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang bagaimana caranya mengukur variabel. Variabel adalah objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan (http://rakim-ypk.blogspot.com).
a)Pola Asuh orangtua
Pada penelitian ini yang maksud dengan pola asuh orangtua adalah bentuk pengasuhan orangtua terhadap anak- anaknya dalam menciptakan peraturan- peraturan demi keberhasilan anak di masa depan.
b) Prestasi belajar
Pada penelitian ini, prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi belajar pada mata pelajaran PKn pada jangka waktu tertentu. Misalnya dalam jangka waktu satu semester.
Prestasi belajar pada mata pelajaran PKn dapat diukur dengan menggunakan tes akhir semester mata pelajaran PKn. Yang mana dengan tes ini dapat di ketahui nilai atau hasil yang diperoleh setelah belajar pelajaran pkn dalam waktu satu semester.
Table 1.
Kisi- kisi pada aspek dalam pengaruh pola asuh orang tua.
No
Aspek
Sup Aspek
Indikator
Nomor
Jumlah soal
1.
Pola asuh orang tua.
a. pola asuh otiriter
1. Kontrol terhadap anak bersifat kaku
2. Komunikasi bersifat memerintah.
3. Penekanan pada pemberian hukuman.
4. Disiplin pada orang tua bersifat kaku.
Melakukan 22 1, 4, 7,9, 11
5
b. pola asuh demokratis.
c. pola asuh permisif.
1. Kontrol terhadap anak relatif longgar
2. Komunikasi dua arah.
3. Hukuman diberikan
sesuai dengan tingkat
kesalahan anak.
4. Disiplin terbentuk atas komitmen bersama.
1. Kontrol terhadap anak
lemah atau sangat
longgar
2. Komunikasi sangat
bergantung pada anak.
3. Hukuman atau
konsekuensi perilaku
tergantung pada anak.
4. Disiplin terhadap anak
sangat longgar, orang
tua bersifat bebas.
3.5 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu pengaruh pola asuh dan prestasi belajar. Dalam analisis data, Pengolahan data dalam penelitian ini dapat menggunakan korelasi Spearman Rho menggunakan SPSS 11 For Windows Release yang diikuti dengan uji coba angket guna mengetahui validitas dan reliabilitas angket yang digunakan, Sehingga hasil yang didapat dapat penelitian dapat benar- benar dipertanggung jawabkan kepada semua pihak.
Uji Validitas Instrumen
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevaliditasan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 1998:160). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.
Uji Reliabilitas Instrumen
Selain data harus valid, alat ukur yang dignakan juga harus dapat memenuhi standar reliabilitas. Suatu instrumen dapat dikatakan reliable jika alat tersebut dapat dipercaya atau diandalkan. Menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Teknik yang dipakai untuk menentukan reliabilitas adalah dengan rumus Alpha (Suharsimi Arikunto, 1998:186).
Rabu, 26 September 2012
PENGERTIAN Problem Based Learning
Problem Based Learning
(pembelajaran berbasis masalah) adalah suatu pendekatan pembelajaran
yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa
untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan
masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial
dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk
merangsang berfikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah,
termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar. Peran guru dalam
pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan
pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
PBL merupakan suatu model pembelajaran
yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap
metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang
berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan
untuk memecahkan masalah.
Problem Based Learning
yaitu proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan
masalah dalam kehidupan nyata dan lalu dari masalah ini siswa dirangsang
untuk mempelajari masalah ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman
baru.
Problem Based Learning (Pembelajaran
berbasis masalah) yang dinyatakan oleh kunandar bahwa tanpa guru
mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran
ide secara terbuka. Secara garis besar pembelajaran berbasis masalah
terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan
bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan
penyelidikan dan inkuiri.
Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
Para pengembang pembelajaran berbasis
masalah (Ibrahin dan Nur,2004) telah mendeskripsikan karaketeristik
model pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut.
Pengajuan pertanyaan atau masalah.
Pembelajaran berbasis masalah dimulai dengan pengajuan pertanyaan atau
masalah, bukannya mengorganisasikan disekitar prinsip-prinsip atau
keterampilan-keterampilan tertentu. Pembelajaran berbasis masalah
mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan atau masalah yang
kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna bagi
siswa. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata autentik untuk
menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam
solusi untuk situasi itu.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.
Meskipun PBL mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu. Masalah
yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau
masalah itu dari banyak mata pelajaran.
Penyelidikan autentik.
Model pembelajaran berbasis masalah menghendaki siswa untuk melakukan
pennyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah
nyata. Mereka harus menganalsis dan mendefinisikan masalah
mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan
menganalsis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat
inferensi, dan merumuskan kesimpulan
Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.
PBL menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk
karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili
bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Bentuk tersebut dapat
berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer. Karya nyata
itu kemudian didemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang
apa yang telah mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar
terhadap laporan tradisional atau makalah.
Kerjasama. Model
pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu
sama lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Bekerjasama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat
dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi
inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan
keterampilan berpikir.
Tahap-Tahap PBLPengajaran berbasis masalah terdiri dari lima tahap, seperti dijelaskan tabel berikut ini;
| Tahapan | Kegiatan guru |
| Tahap 1 : Orientasi siswa terhadap masalah | Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan perangkat yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. |
| Tahap 2 : Mengorganisasi siswa untuk belajar | Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. |
| Tahap 3 : Membimbing penyelidikan individual dan kelompok. | Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan serta pemecahan masalahnya. |
| Tahap 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. | Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. |
| Tahap 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah | Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi teerhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunaka |
Pembelajaran Matematika dengan Tugas Bentuk Superitem
Oleh: Ahmad Firdaus
http://madfirdaus.wordpress.com/2009/11/17/tugas-matematika-bentuk-superitem/
Pertanyaan :
a. Jika keluar bilangan 14, bilangan berapa yang masuk?
b. Jika dimasukkan bilangan 5, bilangan berapa yang akan keluar?
c. Jika keluar bilangan 41, bilangan berapa yang masuk?
d. Jika x adalah bilangan yang keluar dan y adalah bilangan yang masuk, nyatakan y dalam x.
Superitem yang kedua dikemukakan oleh Sumarmo (2002),
Perhatikan gambar berikut:
Pertanyaan:
a. Berapa banyak cara ia sampai ke sasaran? Bagaimana caranya?
b. Jika ada sekat kedua dengan dua pintu, berapa banyak cara ia sampai ke sasaran? Bagaimana caranya?
c. Jika ada empat sekat masing-masing dengan dua pintu, berapa banyak cara ia sampai ke sasaran? Bagaimana caranya?
d. Jika ada n sekat masing-masing dengan dua pintu, berapa banyak cara ia sampai ke sasaran? Bagaimana caranya?
Soal superitem ketiga, dicontohkan oleh Wilson dan Chavarria ( 1993),
STEM :
Sumarmo,U (1993). Profil Struktur Hasil Belajar Matematika Siswa SMA Berdasarkan Taksonomi SOLO. Laporan Hasil Penelitian FPMIPA IKIP Bandung
Sumarmo,U (2002). Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi . Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional. Bandung
Wilson dan Chavarria (1993). Superitem Test as a Classroom Assessment Toll. Dalam Webb dan Coxford (ed). Assessment in the Mathematics Classroom 1993 Yearbook. NCTM: Reston Virginia
http://madfirdaus.wordpress.com/2009/11/17/tugas-matematika-bentuk-superitem/
Biggs dan Collis (dalam Sumarmo 1993, h.
2) melakukan studi tentang struktur hasil belajar dengan tes yang
disusun dalam bentuk superitem. Biggs dan Collis dalam temuannya
mengemukakan bahwa pada tiap tahap atau level kognitif terdapat
struktur respon yang sama dan makin meningkat dari yang sederhana sampai
yang abstrak. Struktur tersebut dinamakan Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome).
Menurut Biggs dan Collis berdasarkan kualitas model respon anak, tahap
SOLO anak diklasifikasikan pada empat tahap atau level. Keempat tahap
tersebut adalah unistruktural, multistruktural, relasional, dan abstrak.
Studi tentang tahap SOLO, juga
dilakukan Sumarmo (1993). Temuan dalam studi ini menguatkan keyakinan
bahwa dalam pembelajaran matematika, penjelasan konsep kepada siswa
hendaknya tidak langsung pada konsep atau proses yang kompleks, tetapi
harus dimulai dari konsep dan proses yang sederhana. Berdasarkan
keyakinan tersebut, Sumarmo (1993) memberikan alternatif pembelajaran
yang dimulai dari yang sederhana meningkat pada yang lebih kompleks.
Pembelajaran tersebut menggunakan soal-soal bentuk superitem sebagai
tugas.
Pembelajaran menggunakan tugas bentuk
superitem adalah pembelajaran yang dimulai dari tugas yang sederhana
meningkat pada yang lebih kompleks dengan memperhatikan tahap SOLO
siswa. Dalam pembelajaran tersebut digunakan soal-soal bentuk superitem.
Alternatif pembelajaran yang direkomendasikan Sumarmo tersebut,
dirancang agar dapat membantu siswa dalam memahami hubungan antar
konsep. Juga membantu dalam memacu kematangan penalaran siswa. Hal itu
dilakukan agar siswa dapat memecahkan masalah matematika.
Sebuah superitem terdiri dari sebuah stem
yang diikuti beberapa pertanyaan atau item yang semakin meningkat
kekompleksannya. Biasanya setiap superitem terdiri dari empat item pada
masing-masing stem. Setiap item menggambarkan dari empat level
penalaran berdasarkan Taksonomi SOLO. Semua item dapat dijawab dengan
merujuk secara langsung pada informasi dalam stem dan tidak
dikerjakan dengan mengandalkan respon yang benar dari item sebelumnya.
Pada level 1 diperlukan penggunaan satu bagian informasi dari stem. Level 2 diperlukan dua atau lebih bagian informasi dari stem.
Pada level 3 siswa harus mengintegrasikan dua atau lebih bagian dari
informasi yang tidak secara langsung berhubungan dengan stem, dan pada level 4 siswa telah dapat mendefinisikan hipotesis yang diturunkan dari stem.
Karakteristik soal-soal bentuk
superitem yang memuat konsep dan proses yang makin tinggi tingkat
kognitifnya tersebut, memberi peluang kepada siswa dalam mengembangkan
pengetahuannya dan memahami hubungan antar konsep. Hal itu dikuatkan
Lajoie (1991) yang menyatakan bahwa superitem didisain untuk
mendatangkan penalaran matematis tentang konsep matematika. Di
samping itu soal bentuk superitem diharapkan lebih menantang dan
mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Sebaliknya guru dapat
melakukan kegiatan diagnostik selama pembelajaran, sehingga perkembangan
penalaran siswa dapat dimonitor lebih dini.
Kemampuan memahami hubungan antar
konsep, kematangan dalam bernalar dan keterlibatan secara aktif dalam
pembelajaran merupakan bagian yang diperlukan dalam memecahkan masalah.
Dengan demikian pembelajaran menggunakan tugas bentuk superitem dapat
diharapkan menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang dapat
membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan meyelesaikan pemecahan
masalah matematika.
Berikut ini tiga contoh butir tes bentuk
superitem dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Soal disusun
sedemikian rupa sehingga setiap butir tes memuat serangkaian informasi
dan kemudian diikuti oleh empat pertanyaan yang sesuai dengan
taksonomi SOLO.
Contoh pertama dari Collis, Romberg dan Jurdak (dalam Sumarmo 1993) berikut,
|
Mesin di samping ini akan mengubah tiap bilangan yang masuk menjadi tiga kali lipat ditambah 2. Jadi bila dimasukkan bilangan 4 akan keluar bilangan 14. |
a. Jika keluar bilangan 14, bilangan berapa yang masuk?
b. Jika dimasukkan bilangan 5, bilangan berapa yang akan keluar?
c. Jika keluar bilangan 41, bilangan berapa yang masuk?
d. Jika x adalah bilangan yang keluar dan y adalah bilangan yang masuk, nyatakan y dalam x.
Superitem yang kedua dikemukakan oleh Sumarmo (2002),
Perhatikan gambar berikut:
|
|
Sebuah ruangan mempunyai satu sekat dengan dua buah pintu. Seorang siswa harus pergi menuju sasaran dengan melalui pintu. |
a. Berapa banyak cara ia sampai ke sasaran? Bagaimana caranya?
b. Jika ada sekat kedua dengan dua pintu, berapa banyak cara ia sampai ke sasaran? Bagaimana caranya?
c. Jika ada empat sekat masing-masing dengan dua pintu, berapa banyak cara ia sampai ke sasaran? Bagaimana caranya?
d. Jika ada n sekat masing-masing dengan dua pintu, berapa banyak cara ia sampai ke sasaran? Bagaimana caranya?
Soal superitem ketiga, dicontohkan oleh Wilson dan Chavarria ( 1993),
Jika gambar dapat dilipat sehingga
menjadi dua bagian yang sama dan tepat dipisahkan suatu garis lipatan,
garis lipatan tersebut adalah garis simetri.
Gambar di atas mempunyai garis simetri yang lebih dari satu.
a.
Manakah gambar di atas yang mempunyai garis simetri?
b.
Gambarlah semua garis simetri pada persegi di atas?
c. Manakah dari delapan huruf kapital pertama dalam alphabet mempunyai tepat dua garis simetri?
d. John berkata, “Saya tahu sebuah
aturan untuk dapat memberitahukan, ketika sebuah gambar yang terdiri
dari empat sisi mempunyai garis simetri. Jika sebuah segitiga pada
masing-masing sisinya sama ukuran dan bentuknya, maka segitiga itu
mempunyai garis simetri”. Jelaskan mengapa anda setuju atau tidak setuju
dengan pendapat John!
Pada contoh soal ke-3 di atas, item a
menggunakan hanya satu bagian dari informasi yang didapat secara
langsung dari stem (definisi garis simetri). Pada item b, yang merupakan
representasi dari level 2, siswa memerlukan penggunaan definisi dari
garis simetri dan fakta gambar yang mempunyai lebih dari satu garis
simetri. Sementara itu pada item c, menggunakan bagian informasi yang
sama dari item b, tetapi memerlukan kemampuan siswa dalam
mengintegrasikan informasi yang menghasilkan diagram dan menggunakan
definisi pada berbagai variasi dari kurva. Siswa dapat menyelesaikan
soal item d, jika siswa dapat berfikir kritis tentang sebuah hipotesis
yang diturunkan dari stem. Pada Taksonomi SOLO, item d ini termasuk ke
dalam level 4.
Berdasarkan contoh superitem di atas,
dikandung maksud agar siswa memahami hubungan antar konsep secara
bertahap dari yang sederhana sampai meningkat kepada yang lebih
kompleks. Selain daripada itu guru melakukan kegiatan diagnostik
terhadap respon siswa, sehingga dapat dengan segera menentukan
langkah-langkah yang diperlukan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Kelebihan pembelajaran matematika dengan
menggunakan tugas bentuk superitem diantaranya, dapat memberikan
kesempatan kepada siswa untuk memahami persoalan matematika secara
bertahap sesuai kesiapannya; dan guru dapat memberikan bantuan yang
tepat kepada siswa berdasarkan respon dari siswa. Pada sisi lain
pembelajaran ini akan memberi kesulitan kepada guru dalam membuat atau
menyusun butir-butir soal bentuk superitem. Kemudian dimungkinkan
terdapat respon siswa yang
beragam. Hal itu akan menuntut kesiapan guru dalam mengantisipasinya.
Wilson dan Chavarria (1993) memberikan pengalamannya dalam mengkonstruksi bentuk soal superitem yaitu,
1) Mengkonstruksi sebuah superitem
akan dimulai dengan menentukan terlebih dahulu prinsip umum apa yang
akan menjadi fokus pada item level empat. Prinsip tersebut akan dibangun
oleh tiga item sebelumnya. Setiap item akan membantu siswa dalam
menggali situasi dari masalah.
2) Stem akan menyajikan sebuah masalah yang relevan dan diperlukan siswa.
3) Respon dari setiap item di dalam sebuah superitem tidak bergantung pada respon yang benar dari item sebelumnya.
Pengalaman kedua ahli tersebut, tampaknya dapat membantu guru dalam menyusun butir soal bentuk superitem.
Daftar Pustaka:
Lajoie,S (1991). A Framework for Authentic Assessment in Mathematics. [Online].Tersedia: http://www.wcer.wisc.edu/ncisla/publications/newsletters/normse/vol1num.1pdf. [ 17 Pebruari 2002 ].Sumarmo,U (1993). Profil Struktur Hasil Belajar Matematika Siswa SMA Berdasarkan Taksonomi SOLO. Laporan Hasil Penelitian FPMIPA IKIP Bandung
Sumarmo,U (2002). Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi . Makalah pada Seminar Matematika Tingkat Nasional. Bandung
Wilson dan Chavarria (1993). Superitem Test as a Classroom Assessment Toll. Dalam Webb dan Coxford (ed). Assessment in the Mathematics Classroom 1993 Yearbook. NCTM: Reston Virginia
SERTIFIKASI GURU: 2013, Formasi CPNS untuk Guru Wajib miliki Sertifikat Pendidikan Profesi Guru
JAKARTA: Proses pendaftaran guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) rupanya
mendapat perhatian khusus dari Pemerintah. Disebabkan oleh timbulnya
rasa prihatin pada kemampuan sebagian besar guru saat ini yang rendah,
maka Pemerintah mencanangkan persyaratan baru pendaftaran guru PNS
dengan harapan untuk merekrut guru PNS berkualitas wahid di tahun
mendatang.
Kriteria yang bakal diterapkan tahun 2013 yaitu dokumen atau ijazah kelulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG), sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh : “Dengan skema baru ini, untuk menjadi guru, baik PNS maupun non-PNS tidak cukup hanya dengan ijazah S.Pd (sarjana pendidikan),”.
Prinsip tersebut mengadopsi seleksi dokter PNS. M. Nuh menjelaskan bahwa agar diterima menjadi dokter PNS, pelamar atau pendaftar tes CPNS tak bisa hanya bermodalkan ijazah sarjana kedokteran (S. Ked). Namun, mereka juga harus mengikuti pendidikan profesi dokter selama satu tahun.
Tata aturan terbaru mengenai persyaratan guru PNS, sedang digodok oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) selaku pelaksana teknis seleksi CPNS baru.
Program PPG ditempuh ketika seseorang sudah menyelesaikan program sarjana pada FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) atau semacamnya. Apabila berminat menjadi guru PNS, maka mereka wajib mengikuti PPG yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Akan tetapi, tak semua sarjana FKIP yang mendaftar di LPTK pasti diterima serta berhak ikut PPG. LPTK tetap bakal menjalankan seleksi CPNS secara ketat karena daya tampung rekrutmen dibatasi.
Para sarjana FKIP juga akan bersaing secara terbuka terhadap sarjana-sarjana fakultas lainnya untuk masuk LPTK. Contohnya : Demi menjadi guru matematika, para sarjana FKIP bakal bertarung dengan sarjana fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alama). Dan itu juga yang terjadi pada guru ekonomi, sarjana FKIP juga akan bersaing dengan sarjana fakultas ekonomi (FE).
Posisi tenaga pendidik atau guru memang idealnya diisi oleh para sarjana FKIP. Akan tetapi, apabila tingkat kompetensi sarjana FKIP jauh di bawah sarjana fakultas lainnya, tentu saja tak bisa dipaksakan mengajar.
Calon guru PNS akan mendapatkan sertifikat sebagai guru profesional setelah mengikuti proses PPG selama satu tahun. Sertifikat tersebut kedepannya harus dilampirkan sewaktu yang bersangkutan akan melamar menjadi guru CPNS. Dengan sertifikat tersebut serta ditambah pengalaman mengajar selama 24 jam pelajaran per pekan, guru bersangkutan berhak mendapatkan tunjangan profesi pendidik (TPP).
Apabila wacana seleksi CPNS khususnya perekrutan guru PNS profesional tersebut berjalan secara sistematis serta lancar, beliau yakin bahwa kualitas guru-guru Indonesia bisa beranjak naik. Nuh pun menegaskan bahwa posisi PPG ini strategis, sebab merupakan proses substitusi program sertifikasi guru yang saat ini sedang berjalan.
Kriteria yang bakal diterapkan tahun 2013 yaitu dokumen atau ijazah kelulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG), sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh : “Dengan skema baru ini, untuk menjadi guru, baik PNS maupun non-PNS tidak cukup hanya dengan ijazah S.Pd (sarjana pendidikan),”.
Prinsip tersebut mengadopsi seleksi dokter PNS. M. Nuh menjelaskan bahwa agar diterima menjadi dokter PNS, pelamar atau pendaftar tes CPNS tak bisa hanya bermodalkan ijazah sarjana kedokteran (S. Ked). Namun, mereka juga harus mengikuti pendidikan profesi dokter selama satu tahun.
Tata aturan terbaru mengenai persyaratan guru PNS, sedang digodok oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) selaku pelaksana teknis seleksi CPNS baru.
Program PPG ditempuh ketika seseorang sudah menyelesaikan program sarjana pada FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) atau semacamnya. Apabila berminat menjadi guru PNS, maka mereka wajib mengikuti PPG yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Akan tetapi, tak semua sarjana FKIP yang mendaftar di LPTK pasti diterima serta berhak ikut PPG. LPTK tetap bakal menjalankan seleksi CPNS secara ketat karena daya tampung rekrutmen dibatasi.
Para sarjana FKIP juga akan bersaing secara terbuka terhadap sarjana-sarjana fakultas lainnya untuk masuk LPTK. Contohnya : Demi menjadi guru matematika, para sarjana FKIP bakal bertarung dengan sarjana fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alama). Dan itu juga yang terjadi pada guru ekonomi, sarjana FKIP juga akan bersaing dengan sarjana fakultas ekonomi (FE).
Posisi tenaga pendidik atau guru memang idealnya diisi oleh para sarjana FKIP. Akan tetapi, apabila tingkat kompetensi sarjana FKIP jauh di bawah sarjana fakultas lainnya, tentu saja tak bisa dipaksakan mengajar.
Calon guru PNS akan mendapatkan sertifikat sebagai guru profesional setelah mengikuti proses PPG selama satu tahun. Sertifikat tersebut kedepannya harus dilampirkan sewaktu yang bersangkutan akan melamar menjadi guru CPNS. Dengan sertifikat tersebut serta ditambah pengalaman mengajar selama 24 jam pelajaran per pekan, guru bersangkutan berhak mendapatkan tunjangan profesi pendidik (TPP).
Apabila wacana seleksi CPNS khususnya perekrutan guru PNS profesional tersebut berjalan secara sistematis serta lancar, beliau yakin bahwa kualitas guru-guru Indonesia bisa beranjak naik. Nuh pun menegaskan bahwa posisi PPG ini strategis, sebab merupakan proses substitusi program sertifikasi guru yang saat ini sedang berjalan.
Langganan:
Postingan (Atom)









